A special movie for parent of special needs children

@5 days ago
(pictorialzation-colored) ibu-ibu gosip arisan……

(pictorialzation-colored) ibu-ibu gosip arisan……

@2 months ago

photoseason with @ecaaprinna

@8 months ago

let’s enjoy the video: payphone - pentatonix (maroon 5 cover)

@9 months ago

Step Up 4 Revolution siap mengguncang musim ini *let’s dance* SWAG

@9 months ago
beautiful city in southbank….

photo by xavier….

beautiful city in southbank….

photo by xavier….

@9 months ago
night light in the city….

night light in the city….

@9 months ago

"Kalau kamu merasa kesepian dan benar-benar sendirian, cobalah berdamai dengan dirimu sendiri…."

didit and eddi says
@11 months ago

then there was you

while i lay here waiting to hear from you, i can’t help thinking about you what my life has become when you became a part of it. waiting and waiting you has been the focus of my thoughts these days, knowing that one day, all that i have envisioned of us being together, will finally happen, even if it’s just for a moment.

you give me a reason to weak up in the morning and smile. just smile no particular reason except the fact that you were here. as days you go by i feel myself growing closer and closer my heart is suddenly coming out of its shy spot and waiting to feel what i feels like to be loved again. i don’t ever to lose you.

when i hear you voice, it’s like a feeling i don’t want to leave; you give me comfort and joy. the sound of your voice is like my favorite love song, i can listen to it all night until it puts me to sleep. yet, still as i continue to lay here and think about everything you were to me.

still, i just want you to know that wherever this road may take us, and how far it may be to finally get where we want to go, always know you are in my heart and in my heart is where you’ll always be. life hasn’t been this grateful to me, until there was you.

thank you for being you. what i’d like to say next, i’d like to say to you personally. until then…..

@1 month ago

"Pinter itu bukan nggak belajar lalu ngerjain soal tanpa salah, pinter itu belajar bahkan saat berbuat kesalahan. Hebat itu bukan (merasa) selalu benar dan menang, hebat itu selalu menghargai yang benar walaupun berarti tidak menang. Jadi belajarlah pada rekan sebaya anda, yang lebih pintar DAN yang lebih bodoh…. *balance*"

study to yourself
@7 months ago with 1 note

the old song (1997): az yet feat peter cetera - hard to say i’m sorry *i love the song* jadul mode on…

@9 months ago

broadway “hello 12” scene cover by glee…

@9 months ago with 2 notes
#glee #lea michele #jonathan groff #rachel berry #jesse st james 

i can’t believe it when jeff (the bassist of your favorite enemies) sent me message and give me a link from his band. wonderful song, i love that song….

@9 months ago

Kisah Bukuku

sejak disibukan dengan hadirnya pertemanan di dunia maya dan kecanggihan teknologi, kini saya kehilangan semangat untuk membaca. ya jujur saja saat jaman sekolah dulu saya senang membeli buku novel dan membacanya untuk sekedar menjadi teman sepanjang hari saya. hingga akhirnya ketika saya dipertemukan dengan kecanggihan teknologi di masa kuliah, kesenangan saya membaca buku novel menghilang. saya yang biasanya bisa berjam-jam lamanya membaca novel, kini tergantikan dengan kesibukan berkutat di depan komputer.

merana memang, koleksi buku saya tak bertambah sejak saat itu. namun masih bersyukur karena kakak ke tiga saya yang juga punya hobby yang sama yakni membaca tak melupakan kewajibannya yang memang senang membaca. dia masih terus membeli buku dan sibuk membacanya hingga berjam-jam, sedangkan saya hmmmmm masih terus berkutat dengan kesibukan di depan komputer.

saya masih ingat pertama kali saya memutuskan untuk mengoleksi buku bergenre fiksi or non fiksi bermula ketika saya mengikuti sebuah club pecinta buku di salah satu koran ternama di kota Cirebon. awalnya saya tidak punya hobby membaca. benci membaca malah, hingga akhirnya club itu membuka pandangan saya. mendapatkan buku gratis dari club itu dan harus membacanya lalu mendiskusikannya menjadi penyemangat saya saat itu. hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku setiap bulannya, dan mulai mengoleksinya. bersyukur 1 tahun berlalu buku-buku bacaan saya mulai menumpuk di lemari kecil di kamar saya. hingga akhirnya sekarang buku buku itu menumpuk di lemari pakaian diruang tamu. mungkin semua orang yang datang ke rumah saya akan merasa heran dengan ada lemarin pakaian di ruang tamu. namun mereka tidak akan menyangka jika di dalamnya bukan menyimpan pakaian melaikan buku koleksi saya dan kakaknya saya.

saya dan kakak saya memang berencana mengoleksi buku sampai pada akhirnya kami punya ruangan baca sendiri untuk anak-anak kami nanti jika mereka berkunjung ke rumah kakek neneknya. mulai dari buku bergenre fiksi, non fiksi, fisikologi, komik, antologi, biografi, sampai catatan harian (jurnal/diary) menjadi buku yang kami koleksi. jumlahnya? hmmmmm sekarang sudah tidak bisa dihitung lagi. ada beberapa  penulis terkenal yang bukunya kami koleksi dari buku pertama hingga terakhir, seperti JK. Rowling, Dewi Lestari, Donny Dhirgantoro, Luna Torashyngu, andrea hirata, Dyan Nuranindya, dan masih banyak lagi. tak jarang sayapun berusaha berburu tanda tangan dari setiap pengarangnya. meski baru dewi lestari dan donny dhirgantoro yang  tanda tangannya baru saya dapatkan, namun saya tetap berusaha untuk mendapatkan tanda tangan yang lainnya.

entah apa yang membuat saya mendadak melupakan niat saya untuk mengoleksi buku. mungkin karena saya selalu disibukan berjam-jam didepan komputer hingga hobby saya membaca menghilang dengan sendirinya. hampir 1 tahun belakangan ini, frequensi saya membeli buku kian berkurang. namun malam ini, 26 juli 2012 saya berusaha untuk mengembalikannya hobby saya lagi. hobby membaca. terlebih ketika saya selesai membaca buku berjudul DANUR karangan dari Risa Saraswati. semangat membaca saya kembali membara. buku tentang apa yang membuat saya kembali bersemangat untuk membaca, nanti saya ceritakan.

sekilas gambar diatas adalah gambar koleksi buku saya dan kakak saya yang diambil 24 januari 2012 lalu. dan hingga kini koleksi buku ini masih terus saja bertambah. saya bersyukur niat baik saya dan kakak saya didukung oleh orang tua kami.

tanpa saya sadari saya ingin berterima kasih kepada Allah SWT yang selalu memberikan rizky kepada keluarga hingga saya selalu bisa membeli buku yang saya inginkan. kepada keluarga saya yang selalu mendukung keputusan anaknya untuk membeli buku, meski itu bukan buku pelajaran. kepada salah satu guru di SMA saya yang pernah berkata, “kalau bisa setiap bulan kita harus membeli buku setidaknya 1 buku dalam 1 bulan. dengan begitu kita tidak akan kehilangan cinta kita pada buku. dan jangan lihat buku dari covernya karena sesungguhnya buku yang diterbitkan pasti memiliki pelajaran berharga didalamnya.” ya…buku yang terbitkan, saya yakin memiliki pelajaran yang tersembunyi di dalamnya, dan kali ini saya setuju dengan guru B.indonesia saya.

selamat pagi, dan dari sekarang marilah “cintai buku”.

@9 months ago

Dicintai Jo…

Berlatar belakang kehidupan Jakarta yang sangat sibuk dan penat di tiap detiknya, Rasti hidup di Jakarta dengan segala kesusahan mengejar kehidupan orang di sekitarnya. Ia memang bukan warga yang berasal dari Jakarta, walaupun begitu, ia masih belum dapat menyesuaikan kehidupannya di Jakarta. Tak jarang ia menjadi bahan ejekan teman kosan dan kantornya karena tidak pernah ber-make up. Rasti pun tumbuh menjadi gadis yang tidak percaya diri di Jakarta.

Sebagai reporter sebuah majalah terkenal yang bertugas menangani artikel di bagian selebriti, Rasti diharuskan untuk menemui berbagai tantangan demi mendapatkan berita artis tersebut. Pernah suatu kali, ia harus mewawancarai Titi DJ, namun saat hendak bertemu dari jarak beberapa meter dari artis tersebut, Rasti merasa mual dan gugup. Kemudian ia pergi ke kamar mandi dan mendapati artis itu telah menghilang.

Suatu kali, pada sebuah acara pameran lukisan, ia tak sengaja bertubrukan dengan seorang pria, Erlangga. Erlangga yang terburu-buru itu, kemudian meminta maaf pada Rasti karena kesalahannya. Namun entah kenapa, jantung Rasti malah berdegup kencang. Rupanya, ia telah menemukan cinta pertamanya.

Sejak saat itu Rasti terbayang akan diri Erlangga, ia mencetak foto Erlangga yang ia miliki satu-satunya dari hasil jepretan kamera digital miliknya. Tak puas hanya mencetak satu, ia mencetak foto idaman hatinya itu untuk dijadikan poster di dinding, foto di meja rias, di dompet, dan di tempat lainnya.

Suatu kali, datanglah ajakan untuk menghadiri sebuah pameran lukisan dari teman Rasti, yang kita sebut saja namanya Reno. Namun tawaran Reno ditolak Rasti. Sebenarnya Rasti telah mengetahui akan keberadaan pameran tersebut sebelum diberitahu oleh Reno, ia tahu ia akan menemui Erlangga di sana. Namun, ia tidak mau datang ke sana atas undangan Reno.

Hari pameran itu pun tiba, Rasti datang dengan baju yang dianggapnya cukup rapi dan cantik, sebuah setelan dengan rok berwarna krem yang cukup feminin. Sebelum ia datang, rupanya ada seseorang bernama Jo yang menandatangani buku tamu di pameran tersebut. Rasti pun tiba di pameran, yang disambut kedatangan Reno yang menggodanya karena ia pernah menolak ajakannya untuk datang ke pameran tersebut.

Bagaikan sebuah roda, Rasti lagi-lagi tertubruk oleh Erlangga, yang langsung disuguhi ucapan maaf darinya karena terburu-buru. Rasti yang kaget itu, merasa senang karena akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan pujaan hatinya itu. Sementara Erlangga memberi kata sambutan kepada pengunjung pameran, Rasti pergi ke luar, ia senang karena pertemuannya tadi.

Tak disangka-sangka, seseorang mendatangi Rasti. Ia mengenakan kemeja putih dibalut jaket jeans biru dan mengenakan celana jeans berwarna senada. Ia kemudian mendekat pada Rasti, “Kamu kenapa nggak mau di dalam? Sumpek ya?”. Mendengar pertanyaan itu, Rasti hanya senyum saja, hatinya masih mengambang karena pertemuannya tadi dengan Erlangga.
“Saya juga sumpek, nggak mau di dalem. Pekerjaan kamu apa?”
“Wartawan”, jawab Rasti malu-malu.
“Oh, pasti kamu udah pernah ketemu presiden, artis terkenal, dan udah pernah pergi kemana-mana ya?”
Rasti menggeleng
“Oh nggak pa-pa, itu wajar, ya udah nggak usah dipikirin. Oh ya, kenalkan nama saya JO”
“Rasti”
“Saya antar kamu ke rumah ya.”
“Ah, nggak usah. Ngapain..”
“Nggak pa-pa kok”

Kemudian, Rasti diantar oleh mobil Mercedes Jo ke kosannya. Rupanya hal itu terlihat oleh teman sekosan Rasti. Temannya itu pun mengoloknya, “Pinter juga kamu cari cowok, yang kaya”. Tak digubris, Rasti pun berangkat ke kantor.

Hari itu Rasti diajak pergi jalan-jalan bersama Jo. Tangannya ditarik Jo erat-erat. Jo menunjukkan berbagai baju yang harus dikenakan olehnya. Modelnya sangat modern dan terbuka. Rasti yang melihatnya menjadi malu dan merasa tak pantas untuk memakainya. Namun Jo memaksa, ia pun mendorong Rasti ke Fit Room. Setelah beberapa lama, Rasti keluar dari kamar pas, memperlihatkan penampilan barunya di hadapan Jo, Jo yang melihatnya pun menjadi senang dan memberikan berbagai macam komentar ala cowok. Dari toko itu, Rasti mendapat berbagai baju baru yang modis dan aksesoris lain yang tak kalah modis untuk melengkapi penampilannya.

Malam harinya, dengan mengenakan baju baru, Rasti diajak Jo ke sebuah pinggiran kota. Mereka berdua saling mengobrol dan bercanda. Rasti yang kedinginan memakai baju yang tipis dan pendek, diberi jaket oleh Jo. Jo pun merangkulnya.
“Kamu tahu kenapa saya ada di Jakarta?”
Rasti menggeleng
“Karena Jakarta tidak pernah mempertanyakan kesendirian”
“Justru aku hidup untuk mempertanyakan teman”, jawab Rasti dengan senyum manisnya.
“Kalau kamu percaya pada saya, saya akan mengubah hidup kamu”. Rasti yang mendengarnya tersenyum.

Hari demi hari berlalu, Rasti pun diajar Jo ber-make up. Dari penggunaan pembersih muka sampai ke bagian bedak, dan lain sebagainya.

Suatu hari, Rasti diajak makan malam bersama Jo. Jo membicarakan berbagai pengalamannya bekerja, ia bercerita bahwa untuk mendapatkan foto pemandangan yang bagus, ia harus mendaki gunung himalaya. Pada akhir pembicaraan, Jo mengantar Rasti seperti biasa dengan mobil mercy nya. Kali ini tujuannya ke apartemen Jo.

Saat Rasti melihat apartemen Jo, ia terkesima
“Wah, apartemen kamu bagus, rapih”
Kemudian ia melihat sebuah foto berfigura di sebelah televisi, “Ini pasti foto yang kamu ceritain tadi ya, Jo? Di himalaya kan, bagus banget!”
Malam itu Rasti bermalam di apartemen Jo. Ia tidur satu kasur dengan temannya itu. Namun, entah kenapa, Rasti terbangun, perasaannya tidak enak, tiba-tiba saja tangan Jo merangkul pundak Rasti. Rasti hanya melihatnya saja.

Keesokan harinya, dengan penampilan barunya Rasti mengagetkan seluruh isi kantornya. Tatapan takjub datang dari teman-teman sekantornya, bahkan ada diantara mereka yang sempat tak dapat berkata-kata. Teman-temannya yang menganggapnya culun pun kaget.

Baru duduk di kursi kantornya sendiri, ia ditelepon oleh Reno. Reno mengajaknya bertemu alasannya, Erlangga mencari-cari Rasti untuk minta diwawancarai. Rasti pun senang bukan kepayang. Ia kemudian menemui Reno.

Reno yang berada di ruang tunggu kantor menunggu Rasti, saat langkah suaranya terdengar, ia sibuk membicarakan Erlangga tanpa melihat wajah Rasti. Namun setelah beberapa saat ia sadar, dan takjub akan penampilan baru Rasti. Tetapi, ia pun ingat dengan tujuan aslinya yaitu mengajak Rasti unuk mewawancarai Erlangga. Rasti pun diantar dengan motornya ke sebuah restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu dengan Erlangga.

Malang, Rasti dan Reno yang telah menunggu lama tidak diperhatikan oleh Erlangga, nampaknya ia sibuk dengan berbagai kegiatan di luar lainnya. Rasti pun menjadi gelisah sendiri, karena hari itu ia ada janji dengan Jo.

Benar saja, sesampainya di kos, ia ditelepon Jo
“Saya nggak nyangka, kamu bisa ngecewain aku dengan nggak matuhin janji ya”
“Maaf Jo, tadi aku ada wawancara sama klien”
”Pasti sama cowok ya”
”Jo…”
”Yah ada janji sih boleh tapi kan kamu harusnya ngasih kabar dulu ke aku , kirim sms kek, atau telpon.”
“Aku janji deh Jo, ntar aku bakal kasih kabar dulu ke kamu kalo ada janji mendadak kayak gini lagi”

Esok harinya, ada gosip mengenai Rasti di kantin.
“Eh, tau nggak si Rasti?”
“Emang kenapa?”
”Kayaknya kan dia itu dapet rejeki nomplok”
”Hah darimana? Masa melet?”, kata pria lain
“Ya nggak lah sekarang udah nggak jaman lagi, pake yang begituan”, ujar wanita pertama.
“Terus gimana?”
“Jangan-jangan itu ya? Jadi perek?”, tebak pria itu lagi.
“Ya nggak harus lah.”, ujar wanita pertama gemas, “Kan ini di Jakarta, kalo dapet cowok tajir juga kan dia bisa kayak gitu.”

Keesokan harinya, Rasti lagi-lagi mendapatkan telepon dari Reno yang menyatakan Erlangga kali ini bisa diwawancara, dan mereka berdua akan diajak pergi ke Bali, karena Erlangga sedang berada di Bali.

Rasti pun senang dan menyusul Reno ke restoran tempat mereka berjanji bertemu. Tapi lagi-lagi sayang, Erlangga tidak tepat janji, lagi-lagi karena urusannya sangat banyak. Rasti pun kemudian diantar pulang oleh Reno dengan motornya. Sesampainya di kosan, ia diturunkan Reno dan ia mendapati Jo duduk di kursi teras kos.
“Jo”, ucap Rasti
“Kalo kamu udah nggak bisa jadi temenku, tinggal bilang aja kok. Kamu nggak usah nyakitin hati aku kayak gini, janji dibatalin.”
”Kamu kenapa sih, Jo? Aku kan udah kasih tau bahwa kita hari ini nggak bisa makan malem bareng, soalnya ada wawancara.”
”Ya, tapi kenapa handphonenya dimatiin?”
“Mungkin tadi kamu telponnya pas aku lagi di motor”
Jo tidak menggubris alasan Rasti, ia pun pergi menuju ke mobilnya.
“Tunggu Jo, aku nggak bisa hidup tanpa kamu”, peluk Rasti, ia tidak mau kehilangan Jo sebagai sahabat baiknya. Jo pun memeluknya, dan tanpa disadari, teman sekosan Rasti melihat adegan itu.

Akhirnya mereka berdua pergi ke apartemen Jo. Kembali seperti saat Rasti datang pertama kali ke apatemen Jo, ia tidur sekasur dengan Jo. Kali ini ia terbangun lagi di malam hari, karena tangisan Jo. Rasti pun menghiburnya dan menjurus Jo untuk melakukan “hal itu” dengan Rasti. Mereka pada malam itu pun tidur bersama malam itu.

Keesokan paginya, Rasti yang terbangun kaget karena ia mendapati dirinya terbalut selimut tanpa memakai baju. Sementara dilihatnya, di sisinya ada Jo yang masih mengenakan kemeja putihnya. Melihat semua itu, ia pergi ke kamar mandi dengan masih mengenakan selimut.

Di kamar mandi, ia begitu menyesal, mengapa ia harus melakukan hal itu dengan Jo? Bukankah Jo hanya temannya? Ia mengguyur dirinya di bawah pancuran sambil menangis menyesal. Setelah selesai mandi, ia mendapati dirinya keluar dari kamar mandi dan dilihat oleh Jo. Ia kemudian pergi ke kantor.

Rasti pun pergi ke kantin bersama seorang temannya.
“Eh, di kantor ada gosip tentang kamu lho”, ujar temannya membuka pembicaraan.
“Pasti yang jelek-jelek ya”
“Tentang kamu kan sekarang punya baju bagus, pokoknya beda banget ama yang dulu”
Rasti terdiam, menunggu
“Tapi yang jelas, aku pernah dapet cerita. Katanya ada seorang cowok yang pake mobil keren. Terus dia ngobrol-ngobrol gitu sama orang kantor. Semua orang udah suka sama gayanya dia, terus tiba-tiba dia nanyain kamar kecil. Yang bikin kita semua kaget adalah, di masuk ke kamar mandi cewek.”
“Jo Cuma temen aku kok”, sanggah Rasti
“Ya, tapi pasti temen yang ngejurus kan. Udah, mendingan kamu ambil keputusan tentang dia.”
Dalam hati, Rasti sudah tahu jawaban semua itu.

Tak disangka, tawaran wawancara dari Erlangga rupanya masih berlaku. Ia kali ini benar-benar berniat meminta diwawancarai di Bali. Kesempatan ini dimanfaatkan Rasti untuk kabur dari Jo. Saat membereskan barang-barangnya untuk packing di malam hari, teman sekosannya melihat.

Teman sekosan itu menceritakan bahwa ia telah tahu bahwa sebenarnya orang yang dikiranya laki-laki adalah perempuan. Ia memberikan kata-kata semangat bagi Rasti,
“Lesbian emang kayak gitu cara kerjanya. Dia cari cewek yang gampang ditipu, misalnya cewek culun kayak lu. Lu asalnya kan nggak percaya diri, setelah dikasih baju bagus, barang bagus, jadi pede kan. Dia emang udah niat kayak gitu. Bikin kamu tergantung sama dia, karena dia kamu jadi bisa pede”
“Kalo kamu mau berurusan dengan lesbian, kamu harus tetap pada tujuan. Kalo kamu bilang ya, ya kamu harus jelas dan terus seperti itu. Tapi kalo kamu bilang nggak, ya nggak. Jangan jadi plin-plan.”

Rasti hanya menerima kata-kata itu, kemudian keesokannya ia pergi ke Bali. Sesampainya di sana, ia berhasil mewawancarai Erlangga tanpa ada kesalahan. Hal yang membuatnya aneh adalah, Erlangga sama sekali tidak menolehnya. Ia tidak melihat diri Rasti sebagai sesuatu yang spesial, sesuatu yang jelas tidak diinginkannya. Hal yang janggal mulai terlihat ketika seorang teman lelaki Erlangga yang berperilaku seperti banci membisiki telinganya dan kemudian ia pergi. Hal yang sama dilakukan Erlangga setelah ia meminta izin pada orang.

Hal yang Rasti impikan, bertemu Erlangga dan mendapat respon lebih rupanya malah tidak terjadi. Siangnya, semua kru diajak makan siang bersama Erlangga, teman laki-lakinya, dan mamanya. Mamanya membicarakan kebiasaan buruk Erlangga., salah satunya mengenai ketakutannya akan bertemu dengan wanita. Pernah suatu kali, saking takutnya Erlangga, sampai-sampai ia pipis di celana karena hal itu.

Rasti yang mendengarnya tertawa, ia juga melihat rasa malu terpancar di muka Erlangga. Anehnya, beberapa saat setelah momen itu, Erlangga memegang tangan teman lelaki di sebelahnya, layaknya seorang perempuan, walau tidak terlihat oleh ibunya. Kemudian, Erlangga dan ibunya pergi dari tempat itu. Setelah mereka berdua pergi, disebutkan oleh teman lelaki Erlangga, “Eh, gila bo! Gitu-gitu si Erlangga pacarnya banci lho! Mampus aja dia, kalo ampe ketauan ama bokapnya…”

Rasti lemas mendengarnya. Malam harinya, dalam keadaan letih dan hacur lebur mendengar kenyataan bahwa idaman hatinya adalah seorang gay, ia diundang ke sebuah klub malam di Bali. Di sana, ia minum minuman alkohol untuk melupakan kejadian siang tadi. Ia tidak terima. Reno yang melihat hal itu, prihatin dan mengingatkan Rasti untuk tidak minum terlalu banyak. Namun sayang, nasehat Reno dibiarkan dan saat Rasti hendak pergi ke kamar kecil, ia jatuh pingsan. Reno yang melihat hal itu, memanggulnya ke kamar.

Keesokan paginya, saat Rasti bangun, masih dengan rasa pening di kepalanya, ia melihat keberadaan Reno di kamarnya. Ia memberikan air putih dan menceritakan hal yang terjadi malam lalu. “Gila ya, Bali. Apa segitu ngubahnya? Kemaren temen kita juga ada yang ambruk kayak kamu. Nggak tau deh, siapa yang nggotong.” Rasti hanya diam saja. “Rasti, lain kali… lain ka…li kamu jangan minum-minum gitu lagi ya. Soalnya… soalnya… aku…. Aku sayang kamu”, jujur Reno yang kemudian langsung pergi dari kamar Rasti.

Rasti tidak mempedulikan aksi cinta yang diberikan Reno dan malah menghubungi Jo. Ia kesepian dan ketakutan. “Jo, kamu dimana?”. Herannya, Jo telah berada di Bali. Rupanya, ia telah tahu gerak-gerik Rasti, Jo pun menemuinya.

“Jo aku butuh kamu”, rengek Rasti
“Nggak, kamu udah nggak butuh aku lagi. Lebih baik kamu seperti wanita normal lainnya”
“Tapi, Jo. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu!”

Jo kemudian meninggalkannya dan segera menuju ke mobil. Ia juga sebenarnya sangat menginginkan dirinya bersama dengan Rasti. Tapi, ia juga ingin melihat Rasti normal dan bahagia… Begitu melihat Rasti yang telah hampir menyusul Jo, Jo pun pergi.

Rasti menangis. Entah berapa lama waktu yang bergulir. Tetapi, kali ini Rasti dan kakaknya, Tike bertemu di sebuah restoran. Sementara seorang lelaki (sepertinya Reno) sibuk bermain dengan anak-anak kakaknya.

“Kamu beruntung Rasti, dapet cowok seperti dia”, ucap Tike
“Coba kamu liat pernikahan kakak. Hancur, dulu aku cantik dan banyak yang suka. Suamiku juga begitu sayang padaku. Tapi semenjak hamil, yang ada hanya lemak yang menambah terus menerus. Sampai perutku sebesar ini”, tunjuk Tike ke perutnya.

“Tapi kamu udah berubah ya sekarang, dulu kamu nggak pedean kan.”—Rasti mengingat dirinya dan kakaknya di masa kecil. Kakaknya yang cantik selalu mendapat perhatian lebih dari ibunya dan didandani dengan cantik, berbeda dengan dirinya.—“Sekarang kamu lebih pede”. Rasti tersenyum manis, ia mendengar hapenya berbunyi. Rupanya ada sms baru.

Isinya :
Aku senang kalian hidup bahagia, aku akan selalu berada di dekatmu.
- JO –

Rasti kaget, rupanya Jo masih sering melihatnya. Rasti kemudian mencari-cari keberadaan Jo. Tetapi rupanya Jo sedang berada di mobil dan tengah berada di perjalanan. Ia sengaja, tidak ingin dilihat oleh Rasti.

 

@9 months ago